More Stories

Rabu, 07 September 2016

The Light of Aceh

by
Aceh is thought to have been the place where the spread of Islam in Indonesia began, and was a key factor of the spread of Islam in Southeast Asia. Islam reached Aceh (Kingdoms of Fansur and Lamuri) around 1250 AD. In the early seventeenth century the Sultanate of Aceh was the most wealthy, powerful and cultivated state in the Malacca Straits region. Aceh has a history of political independence and resistance to control by outsiders, including the former Dutch colonists and the Indonesian government.
Aceh has substantial natural resources, including oil and natural gas; some estimates put Aceh gas reserves as being the largest in the world. Relative to most of Indonesia, it is a religiously conservative area. It has the highest proportion of Muslims in Indonesia, who mostly live according to Sharia customs and laws.

Mari Dukung Aceh sebagai Destinasi Wisata Halal

by
Sesuai dengan visi dan misinya, Gubernur Aceh dr H Zaini Abdullah berharap sektor pariwisata di Aceh akan terus berkembang, bahkan akan menjadi leading sector. Hal ini tidak terlepas dari potensi Aceh sebagai daerah yang kaya dengan pariwisata alam, budaya, dan lainnya.
Sejalan dengan mengeliatnya wisata halal di dunia internasional, Pemerintah Aceh coba mempertegas posisi saat ini sebagai destinasi wisata halal di Indonesia. Selain memang konsep wisata ini punya peluang bisnis yang prospektif, sekaligus juga menjadi media dakwah untuk memperkenalkan Islam ke seluruh dunia.
“Bagi Aceh, prospek bisnis wisata halal ini sangat menjanjikan. Kita punya potensi, karena semua sendi kehidupan berlandaskan Syariat Islam. Selain itu, juga sekaligus memperkenalkan Syariat Islam yang rahmatan lil’alamin. Mari kita dukung bersama-sama untuk mewujudkannya,” kata Zaini Abdullah.
Wisata halal bukan hanya ditujukan untuk wisatawan muslim, namun juga untuk non-muslim, karena mereka pun bisa menikmati makanan halal, hotel halal, dan paket wisata halal.
Doto Zaini menyebut ada empat pilar yang harus dibenahi untuk membangun sektor pariwisata, yakni destinasi, pemasaran, industri, dan kelembagaan. Pilar-pilar ini harus digerakkan serentak agar Aceh menjadi destinasi unggulan wisata halal dunia.
Harapan Zaini Abdullah tersebut memang bukan tanpa alasan. Kementerian Pariwisata RI mengakui potensi yang besar Aceh menjadi salah satu destinasi wisata halal di Indonesia. ”Aceh mempunyai ruh sebagai destinasi wisata halal. Jadi, brandingnya kuat. Tinggal dikembangkan. Potensinya berupa wisata religi, alam, dan tsunami,” ujar seorang pembicara dari Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI dalam workshop Pengembangan Destinasi Wisata Halal oleh Kemenpar RI di Hotel Oasis, Banda Aceh, Kamis (24/3/2016).
Hingga 2015, pertumbuhan industri pariwisata halal merupakan pertumbuhan terbesar dibandingkan jenis pariwisata lainnya. Apalagi Indonesia berhasil meraih tiga penghargaan dunia sebagai World’s Best Halal Tourism Destination, World’s Best Halal Honeymoon Destination, dan World’s Best Family Friendly Hotel pada World Halal Travel Awards (WHTA), pada 19-21 Oktober 2015 di Uni Emirat Arab (UEA). Berangkat pada prestasi ini Kementerian Pariwisata RI tahun ini menominasi tiga provinsi di Indonesia untuk percepatan destinasi wisata halal dunia. Alhamdulillah, Aceh termasuk salah satunya, selain Sumatera Barat dan NTB.
Gubernur Aceh menyebutkan, terpilihnya Aceh pada tahun ini menjadi berkah tersendiri, apalagi Aceh telah lama dikenal sebagai Serambi Mekkah, sehingga mampu memperkuat posisi Aceh sebagai destinasi wisata halal. Di mata Gubernur Zaini, Aceh punya segalanya untuk mengembangkan pariwisata halal. Tinggal lagi adanya semangat dan kerja keras semua pihak terkait.
“Keberadaan beberapa ulama besar, seperti Syeh Abdurrauf, Syamsuddin Assumatrani, Nuruddin Arraniry dan Hamzah Fanshuri yang pernah memberi andil dalam sejarah dan kekayaan seni dan budaya Aceh, tidak hanya memperkuat positioning Aceh sebagai destinasi wisata halal, melainkan Aceh sudah sepatutnya dinominasikan sebagai World’s Best Halal Cultural Destination,” sebut Zaini Abdullah.