More Stories

Senin, 01 Agustus 2016

Kisah Penyebab Gempuran Amerika Serikat Ke Aceh

by
Penyerangan US Ke Aceh
Aceh pernah digempur Amerika Serikat akibat politik dagang dan provokasi Belanda. Pelabuhan Kuala Batu di Susoh, Aceh Selatan rata dengan tanah. Sejak tahun 1789 Aceh sudah menjalin hubungan dagang dengan Amerika Serikat. Kapal-kapal dari Amerika datang untuk memuat lada yang kemudia diangkut ke Amerika Serikat, Eropa dan Cina. Menurut M Nur El Ibrahimy dalam buku Selayang Pandang Langkah Diplomasi Kerajaan Aceh, setiap tahun diangkut sekitar 42.00 pikul atau sekitar 3.000 ton. Pusat perdagangan itu dilakukan di Pelabuhan Kuala Batu, Susoh.

Sejak tahun 1829, karena harga lada di pasaran internasional merosot, jumlah kapal Amerika yang datang ke pelabuhan Aceh mulai menurun. Di antara kapal yang datang dalam masa kemerosotan ekonomi itu adalah kapal Friendship milik Silsbee, Pickman, dan Stone di bawah pimpinan nakhoda Charles Moore Endicot, seorang mualim yang sering membawa kapalnya ke Aceh.

Pada 7 Februari 1831 kapal tersebut berlabuh di pelabuhan Kuala Batu, Aceh Selatan. Ketika Endicot dan anak huahnya berada di daratan, tiba-tiba kapal tersebut dibajak oleh sekelompok penduduk Kuala Batu. Akan tetapi, dapat dirampas kembali oleh kapal-kapal Amerika yang kebetulan saat itu berada di perairan Kuala dengan kerugian sebesar US $ 50.000 dan tiga anak buahnya terbunuh.

Peristiwa itu kemudian menimbulkan sejumlah tanda tanya. Pasalnya, selama setengah abad menjalin hubungan dagang belum pernah terjadi perompakan seperti itu. Menurut M Nur El Ibrahimy, ada beberapa penyebab terjadinya peristiwa tersebut.

Pertama, peristiwa itu dipicu oleh kekecawaan orang Aceh yang selalu ditipu oleh Amerika dalam perdagangan lada. Hal itu diketahui sustu ketika, berat lada yang dibeli dari Aceh 3.986 pikul tapi ketika dijual kembali oleh Amerika beratnya menjadi 4.583 pikul. Hal itu dilakukan melalui pemalsuan takaran timbangan. "Caranya, melalui sebuah sekrup yang dapat dibuka di dasar timbangan yang berbohot 56 lbs., diisi 10 atau 15 pon timah sehingga dalam satu pikul lada orang Aceh dikecoh sebanyak 30 kati," jelas M Nur El Ibrahimy.

Penyebab lainnya, perompakan itu terjadi akibat provokasi Belanda karena Amerika telah berhasil menguasai perdagangan lada dikawasan pantai barat-selatan Aceh. Belanda ingin merusak nama baik Kerajaan Aceh dimata dunia dengan tuduhan bajak laut dan tidak mampu melindungi kapal-kapal asing yang berlabuh diperairannya.

Aceh membantah hal itu, kepada para pedagang asing dan dunia internasional kerajaan Aceh memberi penjelasan bahwa perompakan itu ditunggangi Belanda. Belanda sengaja mempersenjatai sebuah kapal Aceh yang dirampasnya. Kapal itu dinahkodai oleh seorang suruhan Belanda yang bernama Lahuda Langkap.

Saat merompak kapal Friendship milik Amerika di Kuala Batu pada 7 Februari 1831, Lahuda Langkap dan anak buahnya yang dibayar Belanda dalam perampokan itu menggunakan bendera Kerajaan Aceh.

Pembajakan kapal Friendship itu kemudian tersiar luas di Amerika Serikat menjadi jelas ketika kapal tersebut tiba kembali di pelabuhan Salem pada tanggal 16 Juli 1831. Senator Nathanian Silsbee, salah seorang pemilik kapal Friendship dan Partai Whip (Partai Republiken) yang beroposisi terhadap pemerintahan Presiden Jackson, sekaligus seorang politikus yang sangat berpengaruh pada masa itu, langsung menyurati Presiden Jackson pada tanggal 20 Juli 1831.

Silsbee meminta agar Pemerintah Amerika menuntut ganti rugi atas pelanggaran yang dilakukan oleh penduduk Kuala Batu terhadap kapal Friendship. Ia juga menyampaikan petisi yang ditandatangani oleh seluruh pedagang Salem kepada Pemerintah Amerika Serikat. Isinya, meminta agar dikirimkan kapal perang ke perairan Aceh untuk menuntut ganti rugi dan penguasa yang bertanggung jawab atas Kota Pelabuhan Kuala Batu.

Di samping itu, salah seorang pemilik kapal Friendship yang lain. Robert Stones, bersama dengan Andrew Dunlop dan salah seorang sahabatnya yang dekat dengan Presiden Jackson, meminta kepada Menteri Angkatan Laut, Levy Woodbury, agar mendesak Presiden Jackson mengirim kapal perang ke Kuala Batu. Silsbee sendiri secara pribadi menulis surat kepada Woodbury, menggambarkan betapa besar keresahan yang ditimbulkan oleh peristiwa Kuala Batu di kalangan pedagang-pedagang Salem.

Pemerintah Amerika sebelum menerima imbauan dari Senator Silsbee telah memutuskan akan mengambil tindakan terhadap pelanggaran atas kapal Friendship di Kuala Baru itu. Setelah membaca peristiwa itu dalam surat-surat kabar, Woodbury segera memerintahkan agar disiapkan segala keperluan untuk menuntut ganti rugi atas pelanggaran tersebut.

Sebelum menerima surat dan Silsbee, dia telab mengadakan konsultasi dengan Presiden Jackson pada tanggal 21 Juli 1831. Tujuannya, mendapatkan persetujuan Presiden atas surat yang akan dikirim kepada Silsbee. Isi surat ini meminta informasi mengenai peristiwa Kuala Batu. Selain itu, juga dalam rangka memberi tahu Presiden bahwa dia sedang mempersiapkan eskader Pasifik untuk melaksanakan suatu tugas di Sumatra.

Ketika Presiden Jackson menerima imbauan Silsbee, tanpa ragu-ragu segera mendukung dengan membubuhi disposisi singkat dalam surat tersebut, isinya, meminta agar kasus Kuala Batu menjadi perhatian, serta kalau diangap perlu pemerintah Amerika melalui Menteri Angkatan Laut harus mengeluarkan surat perintah kepada Kapten kapal Potomac.

Potomac merupakan kapal perang terbaik dalam armada Amerika Serikat waktu itu. Ketika kasus Kuala Batu jadi pembicaraan di Amerika, kapal tersebut sedang dalam persiapan membawa Menteri Luar Negeri Amerika Van Buren ke Inggris. Akan tetapi atas perintah Presiden Jackson kapal itu dialihtugaskan untuk berangkat ke Aceh.

Pada tanggal 9 Agustus 1831, Komodor John Downes, selaku kapten Potomac diberi instruksi yang lengkap mengenai segala tindakan yang harus dilakukan sesampainya di Kuala Batu. Pertama-tama dia harus mencari informasi lebih dahulu mengenai insiden di Kuala Batu.

Apabila informasi yang diperoleh sesuai dengan keterangan yang diberikan oleh kapten kapal Friendship di Washington maka dia harus menuntut ganti rugi atas kekerasan yang dilakukan oleh orang-orang Aceh terhadap kapal Friendship. Kalau tuntutan itu tidak dipenuhi, dia harus menangkap pelaku-pelaku kejahatan tersebut dan inembawa mereka ke Amerika Serikat untuk diadili sebagai bajak laut.

Perintah lainnya, benteng-benteng di Kuala Batu harus dimusnahkan. Sebaliknya, bila informasi yang diperoleh di Kuala Batu berbeda dengan keterangan Kapten Kapal Friendship, maka Amerika hanya meminta ganti rugi serta menghukum pelakunya.

Pada 29 Agustus 1831, kapal Potomac berangka dari New York ke Aceh dengan membawa 260 marinir. Sebelum sampai di Kuala Batu Komodor John Downes kapten kapal tersebut melakukan penyimpangan terhadap instruksi Menteri Angkatan Laut Amerika yang diterimanya.

Ia terpengaruh dengan cerita yang didengarnya dari kapten kapal Friendship, Endicot, dan orang-orang Inggris yang dijumpainya di Tanjung Harapan dalam pelayarannya ke Kuala Batu, yaitu bahwa harapan untuk mendapat ganti rugi dari penguasa Kuala Batu tidak mungkin terpenuhi.

Ia mengirim Letnan Marinir Shubrick untuk mengamat-amati keadaan di darat, tapi penduduk Kuala Batu tidak terkecoh oleh penyamaran yang dilakukan Downes. Mereka lalu berkumpul di pantai untuk menghadapi sesuatu kemungkinan. Mendengar laporan yang demikian dari Shubrick, Downes memerintahkan untuk mendarat dengan kekuatan seluruh anak buah Potomac dan mengepung benteng-benteng yang berada di pantai Kuala Batu serta menangkap pemimpin-pemimpinnya.

Subuh 6 Februari 1832, sebanyak 260 orang marinir Amerika di bawah pimpinan Shubrick mendarat di Kuala Batu dan mengepung benteng-benteng yang ada di sana. Namun, karena ada perlawanan maka marinir Amerika membunuh semua yang berada di dalam benteng-benteng, termasuk wanita dan anak-anak serta merampas segala sesuaru yang berharga.

Setelah melakukan pembunuhan itu, mariner Amerika mengundurkan diri dengan dua orang diantara mereka tewas dan sembilan luka-luka. Downes kemudian memerintahkan menembaki kota pelahuhan Kuala Batu melalui meriam-meriam dari kapal Potomac. Seketika Pelabuhan Kuala batu pun jadi abu.

Tindakan Downes itu dikecam oleh sebagian politikus Amerika, diantaranya George Bencroft, yang pada waktu penembakan Kuala Batu berada di atas kapal Potomac. Sebagian harian Amerika yang terbit di Washington, seperti harian dagang yang sangat berpengaruh, Nile's Weekly Register, juga mengecam tindakan tersebut.

Pada tanggal 23 Juli 1832 seorang anggota DPR Amerika, Henry A.S. Dearborn dari Partai Republik Massachusetts yang beroposisi, mengajukan sebuah mosi yang meminta agar Presiden Jackson menyampaikan kepada Kongres mengenai Instruksi Downes untuk menggempur Kuala Batu, dan laporan tentang peristiwa tersebut. Mosi ini diterima oleh sidang. Pada hari itu juga, Presiden Jackson memenuhi permintaan kongres, tetapi minta agar hal tersebut jangan dipublikasikan sebelum laporan lebih lanjut diterima.

Dalam sidang Sabtu malam, tanggal 24 Juli 1832, permintaan Presiden itu diperdebatkan. Anggota Dearborn berpendapat bahwa hal tersebut harus dipublikasikan karena bila menutup-nutupi peristiwa tersebut, Downes akan mendapatkan sorotan jelek dari khalayak ramai. Sebaliknya, Ketua Komisi Urusan Angkatan Laut, Michael Hoffman dari Partai Demokrat New York, menentang pendapat Dearborn dengan suatu amandemen bahwa peristiwa tersebut dapat dipublikasikan, tetapi harus menunggu laporan lebih lanjut.

Dalam amanat tahunannya, Presiden Jackson tidak menyinggung sama sekali peristiwa penggempuran Kuala Batu oleh Potomac yang dipimpin Downes. "Hal mi menunjukkan bahwa peristiwa pembakaran Kuala Batu dan pembantaian penduduknya oleh marinir Amerika telah dipeti-eskan," tulis M Nur El Ibrahim.
[terbaca dot com]

Semoga bermanfaat
#KeepBlogging

Minggu, 31 Juli 2016

Makam Pemimpin Armada Inong Balee Laksamana Malahayati, Krueng Raya - Aceh Besar

by
Makam Laksamana Malahayati
Makam ini terletak di dekat Benteng Inong Balee yang secara administratif berada di Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar. Benteng ini disebut Benteng Inong Balee yang pebangunannya dipimpin Laksamana Malahayati, pada masa Sultan Alaiddin Ali Riayat Syah IV Saidil Mukammil.

Untuk menuju Benteng Inong Balee melalui jalan raya beraspal arah Banda Aceh - Mesjid Raya berbelok ke arah kiri berlanjut melalui jalan tanah. Kemudian sekitar 1 km melintasi jalan tanah tersebut maka akan dijumpai benteng yang berada di tepi jurang, dan dibawahnya pantai dengan batuan karang. Sekitar 3 km dari Benteng Inong Balee dijumpai kompleks makam Laksamana Malahayati yaitu pada bagian puncak bukit kecil. Sekeliling areal makam adalah perladangan penduduk.

Untuk menuju ke kompleks makam tersebut ditempuh dengan cara menaiki susunan anak tangga semen mulai dari bawah bukit. Areal makam dibatasi pagar tembok dengan pintu masuk berada di timur. Ada tiga makam yang berada dalam satu jirat dan dinaungi oleh satu cungkup. Jirat berbentuk persegipanjang dari semen yang dilapisi keramik putih. Ukuran tinggi jirat dari permukaan tanah sekitarnya adalah 30 cm.

Armada Inong Balee pada zaman Sultan Alaiddin Ali Riayat Syah IV Saidil Mukammil yang memerintah tahun 997-1011 H (1589-1604), dibentuk sebuah armada yang sebagian prajurit-prajuritnya terdiri dari janda-janda yang disebut Armada Inong Balee. Armada ini dipimpin Laksamana Malahayati, seorang wanita yang ditinggal mati suaminya dalam suatu pertempuran laut. Armada Inong Balee berulangkali terlibat dalam pertempuran di Selat Malaka, daerah pantai timur Sumatera, dan Malaya. Seorang wanita penulis asal Belanda, Marie van Zuchyelen dalam bukunya “Vrouwolijke Admiral Malahayati” memuji Laksamana Malahayati dengan armada Inong Baleenya itu, terdiri dari 2000 prajurit wanita yang gagah dan tangkas (Hasjmy, 1975:95).

Laksamana Malahayati melatih para janda menjadi prajurit kesultanan yang tangguh di dalam sebuah benteng, yaitu Benteng Inong Balee. Laksamana Malahayati juga diberi wewenang oleh Sultan Alaiddin Ali Riayat Syah IV Saidil Mukammil untuk menerima dan menghadap utusan Ratu Inggris Ratu Elizabeth I, Sir James Lancaster yang datang ke Aceh dengan tiga kapal yaitu Dragon, Hector dan Ascentic pada tanggal 6 Juni 1602 dengan membawa sepucuk surat dari Ratu Inggris (Mann, 2004:23).

Pada masa pemerintahan Sultan Muda Ali Riayat Syah V Mukammil yang memerintah dalam tahun 1011-1015 H (1604-1607) keberadaan prajurit wanita itu masih tetap dipertahankan, yaitu dengan dibentuknya Sukey Kaway Istana (Kesatuan Pengawal Istana). Kesatuan Pengawal Istana itu terdiri dari Si Pa-i Inong (prajurit wanita) di bawah pimpinan dua pahlawan wanita: Laksamana Meurah Ganti dan Laksamana Muda Cut Meurah Inseun (Hasjmy, 1975:95).

Kedua pimpinan Kesatuan Pengawal Istana itulah yang telah berjasa membebaskan Iskandar Muda dari penjara tahanan Sultan Muda Ali Riayat Syah V Mukammil. Setelah pemerintahan Sultan Muda Ali Riayat Syah V Mukammil berakhir, dilanjutkan oleh Sultan Iskandar Muda Darma Wangsa Perkasa Alam Syah yang memerintah pada tahun 1016-1045 H (1607-1636 M).

Pada masa itu Kerajaan Aceh Darussalam berkembang pesat dan mengalami masa keemasannya. Perhatian sultan kepada para prajurit wanita cukup besar. Sultan memperbesar dan mempermodern Angkatan Perang Aceh, di antaranya membentuk suatu kesatuan pengawal istana yang terdiri dari prajurit wanita di bawah pimpinan seorang jenderal wanita, Jenderal Keumala Cahaya. Dari catatan sejarah kesatuan wanita tersebut sebagian merupakan Kesatuan Kawal Kehormatan yang terdiri dari prajurit wanita cantik. Kesatuan ini bertugas menyambut tamu-tamu agung atau para pembesar baik dari kalangan pembesar kerajaan di nusantara maupun dari luar/asing dengan barisan kehormatannya.


Semoga bermanfaat
#keepBlogging

Tidak Ada Kata Damai Bagi Wanita Aceh Dalam Masa Peperangan...!!!

by

"Wanita Aceh dalam setiap perang menolak setiap perdamaian dan lebih berwatak keras dengan berprinsip membunuh atau dibunuh' –  Zentgraaff
Apa yang dikatakan HC Zentgraaff itu bukanlah tanpa alasan. Jurnalis perang itu mengalami dan melihat sendiri bagaimana perempuan Aceh mengambil perannya dalam perang melawan Belanda. Redaktur Java Bode itu kemudian membukukan pengalaman perangnya di Aceh dalam buku “Atjeh”.

Buku ini kemudian dianggap sebagai gondam yang memukul muka Belanda sendiri, menelanjangi kegagalan Belanda di Aceh. Zentgraaff tak segan-segan mencela bangsanya sendiri yang bertindak kejam dalam memerangi orang-orang Aceh. Ia juga dengan rendah hati memuji kehebatan pejuang Aceh, bukan hanya pria tapi juga wanita.

Zentrgaaff menulis, “De atjehschevrouw, fier en depper, was de verpersoonlijking van den bittersten haat jegens ons, en van de uiterste onverzoenlijkheid an als zij medestreed, dan deed zij dit met een energie en doodsverachting welke veelal die der mennen overtroffen. Zij was de draagster van een haat die brandde tot den rand van het graf en nog in het aangezicht van den dood spuwde zij hem, den kaphe in het geizcht.”

Artinya, “Wanita Aceh  gagah dan berani mereka pendukung yang tidak mungkin didamaikan, terhadap kita dan bila ia turut serta bertempur, dilakukannya dengan gigih dan mengagumkan, bersikap tidak takut mati yang melebihi kaum pria. Ia mempunyai rasa benci yang menyala-nyala sampai liang kubur dan sampai saat menghadapi maut, ia masih mampu meludahi muka si kaphe.”

Menurut Zentgraaff, wanita Aceh dalam setiap perang menolak setiap perdamaian dan lebih berwatak keras dengan berprinsip membunuh atau dibunuh. Pujian Zentgraaff terhadap wanita Aceh muncul setelah ia menemui Pucut Meurah Intan yang dikenal sebagai Pocut Di Biheue, seorang wanita pemberani yang menyerang patroli Belanda seorang diri di Padang Tiji.  Ia digelar oleh Belanda sebagai heldhftig yakni perempuan yang gagah berani.

Dalam buku Prominent Women in The Glimpse of History (Wanita-wanita Utama Nusantara dalam Lintasan Sejarah) peristiwa itu ditulis T Ibrahim Alfian dengan juga merujuk pada keterangan Zentgraaff dan sumber-sumber Belanda lainnya.

Suatu ketika keberadaan Pocut Di Biheue diketahui Belanda. Ia berhadapan seorang diri dengan patroli 18 marsose bersenjata lengkap. Pocut di Biheue biukannya mundur, ia mencabut rencong dari pinggangnya, menyerang patroli itu seorang diri. “Meunyoe ka lageei nyoe, bah ulon mate,” teriaknya.

Pocut Di Biheue memilih menyerang patroli itu dari pada ditangkap. Melihat itu, tentara marsose terkejut. Mereka tak menyangka, seorang perempuan paruh baya berani menyerang patroli 18 tentara Belanda lengkap dengan senjata. Ia menikam ke kiri dan ke kanan sehingga mengenai tubuh beberapa marsose. Sementara tubuhnya sendiri juga ditebas dengan sabetan pedang marsose.

Pocut Di Biheue mengalami dua luka sabetan pedang di kepalanya dan dua sabetan di bahu. Salah satu urat keningnya juga putus. Ia terbaring di tanah bersimbah darah dan lumpur. Melihat Pocur Di Biheue yang sudah tak berdaya, seorang sersan bertanya pada Veltman komandannya. Ia minta ijin untuk mengakhiri penderitaan Pocut Di Biheue, ia ingin menembaknya hingga meninggal. “Bolehkan saya melepaskan tembakan pelepas nyawa?” tanya sersan itu.

Veltman kemudian membentak sersan tersebut. “Apa kau sudah gila.” Veltman membungkuk dan menjulurkan tangannya untuk membantu Pocut Di Biheue, tapi mukanya diludahi, “Bek kamat kei kaphe,” kata Pocut Di Biheue sambil setelah meludah wajah Veltman.

Perwira Belanda yang bisa berbahasa Aceh itu kemudian meniggalkan Pocut Di Biheue seorang diri. Veltman ingin agar Pocut Di Biheue yang sekarat itu meninggal bisa menghembus nafasnya di hadapan bangsanya sendiri.  Namun dugaan Veltman meleset. Beberapa hari setelah kejadian itu, Veltman bersama pasukannya kembali patroli ke kawasan Keude Biheue, antara Sigli dan Padang Tiji. Ia bukan saja mendengar bahwa Pocut Di Biheue masih hidup, tapi juga berencana untuk kembali menyerang patroli Belanda.

Veltman kagum dengan keberanian Pocut Di Biheue, karena itu ia membawa seorang dokter bersamanya ketika menjenguk Pocut Di Biheue dalam masa penyembuhan di kediamannya.

Ketika Veltman sampai, Pocut Di Biheue masih sangat lemah akibat banyak kehilangan darah. Tubuhnya menggigil, ia mengerang kesakitan. Meski begitu, ia tetap menolak bantuan dokter yang dibawa Veltman untuk merawatnya. “Jangan kau sentuh aku, lebih baik aku mati dari pada tubuhku dipegang kaphe,” katanya.

Veltman yang fasih berbahasa Aceh terus membujuk Pocut Di Biheue agar mau diobati. Akhirnya ia menerima juga bantuan dokter itu, tapi tentara pribumi dari pasukan marsose pimpinanVeltman yang mengobatinya. Ia tidak mau tubuhnya dipegang oleh Belanda.

Berita tentang Pocut Di Biheue akhirnya sampai kepada Scheuer, komandan militer Belanda. Ia menyatakan keinginannya untuk bertemu dengan perempan yang dinilainya sangat luar biasa itu.

Ketika Scheuer sampai ke kediaman Pocut Di Biheue, wanita gagah perkasa itu belum sembuh betul. Di hadapan Pocut Di Biheue, Scheuer, komandan militer Belanda itu mengambil sikap sebagai seorang prajurit. Ia mengangkat tabik tanda hormat dengan meletakkan ujung jari-jarinya di ujung topi petnya. “Katakan padanya, bahwa saya sangat kagum padanya,” kata Scheuer pada Veltmant. 

Makam Pocut Di Biheu di Blora, Jawa Tengah

Veltman pun menterjemahkan apa yang dikatakan Scheuer terhadap Pocut Di Biheue itu. Pocut Di Biheue yang sudah kelihatan kurus pun tersenyum. “Kaphe ini boleh juga,” katanya. Setelah sembuh, Pocut Di Biheue kemudian diasingkan ke Blora, Jawa Tengah. Belanda takut Pocut Di Biheue kembali memimpin masyarakatnya untuk melawan Belanda.

Kemudian ada lagi kisah keuletan Pocut Baren, yang kakinya harus diamputasi. Suatu ketika pasukan Belanda yang dipimpin Letnan Hoogres menyerang benteng Gunong Macan. Mereka menggempur benteng pertahanan Pocut Baren dengan dahsyat. Pocut Baren bersama pasukannya melakukan perlawan yang sengit. Dalam pertempuran itu, kaki Pocut Baren tertembak dengan luka yang cukup parah. Karena luka itulah, ia ditawan oleh Belanda dan dibawa ke Meulaboh sebagai tawanan lalu dibawa ke Kutaraja untuk pengobatan.

Luka kakinya bertambah parah, hingga tak dapat diobati lagi. Tim dokter yang merawatnya terpaksa melakukan amputasi; kaki Pocut Baren dipotong. Selama di Kutaraja Pocut Baren diperlakukan sebagaimana layaknya tawanan perang dan seorang Uleebalang. Masa-masa di Kutaraja merupakan masa penantian yang sangat panjang, masa penantian keputusan hukuman yang akan dijatuhkan Belanda terhadapnya.

Gubernur Militer Hindia Belanda di Aceh, Van Daalen memutuskan hukuman buang ke Pulau Jawa terhadap wanita perkasa ini. Mendengar putusan itu,  seorang perwira penghubung Belanda, T J Veltman, menyampaikan saran kepada Van Daalen agar Pocut Baren tidak dibuang ke Pulau Jawa, melainkan dikembalikan ke daerahnya untuk melanjutkan kembali kepemimpinannya sebagai Uleebalang. Saran Veltman itu diterima oleh Van Daalen.

Doup seorang penulis Belanda dalam buku Gadenk Book va Het Korps Marechaussee mengungkapkan, Pocut Baren merupakan wanita yang diburu secara khusus oleh Belanda. Para pemimpin patroli pemburu Pocut Baren adalah tokoh-tokoh Belanda terkemuka dan terkenal amat berpengalaman dalam peperangan. “Hal ini menunjukkan bahwa wanita itu memang dianggap sebagai lawan tangguh,” tulis Doup.

Doup mencatat nama-nama perwira Belanda yang pernah pemimpin pasukan pemburu Pocut Baren, mereka antara lain adalah Kapten TJ Veltman, Kapten A Geersema Beckerrigh, Kapten F Daarlang, Letnan JHC Vastenon, Letnan OO Brewer, Letnan W Hoogers, Letnan AH Beanewitz, Letnan HJ Kniper, Letnan CA Reumpol, Letnan Wvd Vlerk, Letnan WL Kramers, Letnan H Scheurleer, Letnan Romswinkel, Sersan Duyts, Sersan De Jong, Sersan Gackenstaetter, Sersan Teutelink, Sersan van Daalen, dan Sersan Bron.

Pocut Baren

Veltman yang fasih berbahasa Aceh, secara berkala terus melakukan komunikasi dengan Pocut Baren, sehingga perwira Belanda itu dapat membuat laporan mengenai perubahan yang terjadi pada Pocut Baren. Ia wanita yang suka berterus terang, suatu sikap yang amat dihargai oelh Veltman. Karena itulah Pocut Baren dikenal sebagai pejuang yang dapat menghormati musuhnya karena kebaikannya.

Adalagi kisah istri Teungku Mayed Di Tiro, putra Tgk Chik Di Tiro. Dalam pertempuaran pada tahun 1910, meski sudah dikepung pasukan Belanda, Tgk Mayed Di Tiro bisa meloloskan diri atas bantuan istrinya. Sementara istrinya tertangkap dengan luka parah di tubuhnya, sewaktu komandan pasukan Belanda hendak memberikan pertolongan, ia menolaknya. “Bek ta mat kei kaphe budok (jangan sentuh aku kafir celaka),” hardiknya dengan suara lantang. Ia lebih memilih syahid dari pada mendapat pertolongan dari kafir.

Sikap ceubeh dan tungang itu hingga kini masih menjalar dalam jiwa-jiwa perempuan Aceh. Menutup tulisan ini saya kutip sepenggal puisi Vichitra, cucu Tuanku Hasyim Banta Muda, panglima besar perang Aceh yang mempertahankan mesjid raya saat agresi pertama Belanda. “Bangsa Aceh terkenal tungang, sesama bangsa sendiri sering bertikai, konon lagi dengan musuhnya.” [Iskandar Norman]

Semoga bermanfaat
#KeepBlogging

Sabtu, 30 Juli 2016

Sambal Unik Aceh, Sambai Oen Peugaga

by
Bagi penggemar sambal, tentunya belum sempurna jika belum mengecap pedasnya cabe yang bercampur kelapa parut khas Aceh ini. Namun bagi yang takut dengan pedasnya cabe, tak perlu khawatir. Karena jenis sambal yang satu ini tak sepedas sambal cabe pada umumnya. Dan Anda siapapun bisa mengecap nikmatnya sambal ini.

Sambai Oen Peugaga atau yang biasa disebut Sambal Daun Peugaga yang merupakan makanan tradisional Aceh ini memiliki daya tarik tersendiri. Karena bagi yang tidak begitu bisa menikmati pedasnya cabe, lidah tetap bisa mengecap lezatnya sambal yang satu ini. Karena sambal ini menggunakan cabe hijau yang dikenal tidak memiliki rasa begitu pedas.

Pada umumnya, sambal menggunakan bahan utama cabai dengan jumlah yang cukup banyak. Namun tidak dengan sambai oen peugaga ini, yang menggunakan bahan utamanya adalah kelapa parut. Sehingga sambal yang satu ini cukup terlihat unik.

Sehingga tampilan dari sambal yang satu ini lain daripada sambal lainnya. Dan sambal ini sangat nikmat dihidangkan bersama hangatnya nasi putih dan aneka sayuran rebus maupun lalapan mentah.

Bahkan cara membuatnya pun sangat mudah. Dan bahan-bahan yang dibutuhkan juga mudah didapat. Seperti apa cara membuat Sambal Daun peugaga ini?

Berikut resep membuat sambal yang satu ini. Dan Anda akan merasakan sensasi kenikmatan jenis makanan tradisional khas Aceh ini di meja makan Anda.

Sambai Oen Peugaga

Bahan-bahan
  • 100 gram udang ukuran kecil, goreng hingga matang
  • 50 gram daun peugagan, potong halus
  • ½ butir kelapa muda, parut
  • 100 gram kacang tanah, goreng, haluskan
  • 10 buah cabe hijau
  • 4-5 lembar daun jeruk
  • 10 butir bawang merah, iris tipis
  • 1 batang sereh ukuran besar, ambil bagian putihnya, iris tipis
  • 1 buah jeruk nipis, peras ambil airnya
  • 4 buah asam sunti, rendam hingga lunak, iris tipis
  • Garam secukupnya
Cara membuat Sambai Oen Peugaga khas Aceh
  1. Ambil wadah, campur Daun pegagan yang sudah dipotong halus,bawang merah, bawang putih, parutan kelapa, cabe hijau, daun jeruk, air jeruk nipis dan sereh, remas-remas
  2. Tambahkan udang dan kacang tanah,aduk rata
  3. Sajikan
Semoga bermanfaat
#KeepBlogging

9 Tips Mendapatkan Makanan Enak Di Pesawat

by
Saat kamu memutuskan traveling atau perjalanan dinas dengan transportasi udara, pernah gak sih pilihan makanan ada di benakmu? Akui saja! Selain soal harga, kenyamanan, kursi, dan reputasi penerbangannya, fasilitas berupa makanan pasti pernah kamu pertimbangkan.

Menghabiskan waktu berjam-jam di udara dan melewati jam makan siang ataupun malam, siapa sih yang tidak kepikiran untuk makan? Kalau ini diabaikan, bisa-bisa kamu sakit di atas sana. Perjalananmu pun kurang nyaman dinikmati. Untuk panduan memilih makanan enak di pesawat, berikut tips mendapatkan makanan enak di pesawat:

1. Kalau ada pilihan nasi atau mie, pilihlah mie

Kamu yang tidak bisa lepas dari nasi, mungkin harus memperhatikan ini. Meskipun nasi lebih mengenyangkan, namun di atas udara, perutmu lebih mudah mencerna mie. Ini karena tekstur mie yang lebih basah.

2. Kalau bisa, pesan menu via online supaya bisa dipersiapkan sebelumnya oleh pihak airlines.

Maskapai penerbangan tertentu, misalnya AirAsia, sudah menyediakan layanan pesan makanan sebelum hari keberangkatan. Keuntungan pemesanan ini, kadang maskapai memberikanmu diskon pembelian. Saat sudah berada di pesawat pun, makanan favoritmu pasti tersedia dan disajikan lebih dahulu. Enak, kan?

3. Mintalah pramugari tepat waktu mengantar menu makan

Kamu yang tidak boleh makan telat, harus banget meminta makanan siap tepat waktu! Jika perlu, mintalah sebelum pramugari menawarkan. Gawat banget kalau maag, masuk angin, atau sakit kepala kumat di pesawat gara-gara telat makan. Sedangkan itu, kamu harus melalui perjalanan berjam-jam di udara

4. Tanyakan kandungan apa saja dalam menu pada Maskapai penerbangan 

Kebanyakan menu yang ditawarkan dalam pesawat, sudah diolah dan dimasak ketika masih ada di daratan. Setelah itu, menu dikemas dan disimpan dalam pesawat. Ketika penumpang ingin makan, menu tadi tinggal dihangatkan saja dengan oven. Bukan dengan kompor atau api terbuka. Prosedur ini sengaja dilakukan demi keamanan perjalanan.

Jika kamu memang punya alergi atau pantangan, lebih baik tanyakan kepada pramugari yang bertugas. Jika masih bisa memodifikasi makanan sebelum dihangatkan, mintalah hal tersebut. Dengan demikian, kamu tidak akan merugi.

5. Utamakanlah gizi yang kamu terima dari makanan tersebut

Kadang, penampilan yang cantik disesuaikan dengan kelas penerbangan kamu. Jika kamu naik kelas ekonomi, ya jangan harap mendapat menu-menu ala restoran atau hotel berbintang lima. Lebih baik, utamakan pilihan menu yang mencukupi kebutuhan gizi. Ada nasi (atau sumber karbohidrat lain), sayur, lauk utama (dan lauk pendamping jika dibutuhkan), serta minum. Penampilan soal belakangan, deh!

6. Pastikan juga besarnya porsi cukup untuk mengenyangkanmu

Karena kamu gak mungkin mampir turun ke daratan di tengah perjalanan, pastikan menu yang dipilih membuatmu kenyang. Sehingga, kamu tidak perlu bolak-balik pesan makanan dan bolak-balik membayar. Kan lebih efisien.

7. Pilihlah menu dengan rasa gurih atau mengandung rempah.

Hal ini sudah diteliti oleh para ilmuwan, lho! Dikutip dari situs BBC Indonesia, ketika kamu terbang dengan ketinggian 30.000 kaki, selera makanmu akan berbeda dengan saat masih di darat. Fungsi lidah dan hidung melemah karena kurangnya kelembapan udara dan rendahnya tekanan udara.

Di saat seperti itulah, rasa asin dan manis akan hilang. Justru yang akan dominan adalah rasa gurih (umami) dan cita rasa yang dihasilkan dari makanan berempah. Karenanya, pilihan menu dengan rasa gurih dan berempah tidak akan salah.

8. Pakailah penutup telinga saat makan

Suara bising dari mesin pesawat juga mempengaruhi kenikmatan makanmu, lho! Coba bayangkan! Ketika kamu ada di resto dengan nuansa tenang, pasti makanmu terasa nikmat dan lahap. Tapi bagaimana jika kamu makan di tempat yang terlalu ramai? Selera dan fokusmu makan pasti berubah juga kan? Makanya, siapkan penutup telinga sebelum kamu naik ke atas pesawat.

9. Cek kenikmatan makanan dari maskapaimu dari dunia maya. Misalnya di situs Airline Meals.

Jika ingin menu yang nikmat dari pesawat yang kamu tumpangi, tidak ada salahnya mensurvey terlebih dahulu maskapainya sebelum pesan tiket. Kini, sudah ada situs khusus yang membahas khusus tentang ini. Ada banyak sekali review tentang menu dari seluruh maskapai penerbangan di dunia. Baik itu kelas ekonomi hingga kelas VIP sekalipun.

Semoga bermanfaat
#KeepBlogging

Marina Beauty Journey, Dicari 20 Perempuan Muda Berbakat

by
Mengawal perempuan muda menggali bakat dan mencapai cita-cita, Marina kembali menggelar program Marina Beauty Journey. Program yang sebelumnya dikenal dengan nama Beauty Days Out ini telah menginjak tahun keenam dengan mengangkat tema #SaatnyaBersinar.

Program Marina Beauty Journey #SaatnyaBersinar, memberikan kesempatan bagi para perempuan muda Indonesia berbakat yang berani mengekspresikan bakat dan minatnya untuk mendaftarkan diri di sahabat marina. Pendaftaran dibuka sejak 28 Juli hingga 31 Oktober 2016.

Nantinya akan dipilih 20 orang Sahabat Marina yang berkesempatan mengikuti Marina Beauty Journey Camp di Bali. Mereka akan dibekali berbagai ilmu dalam kelas inspiratif, kelas motivasi, wawasan ilmu, pelatihan serta berbagai pengalaman seru. Semuanya akan menjadi modal untuk menjadi pribadi yang bersinar dan menginspirasi perempuan muda Indonesia lainnya.

Kelas-kelas inspiratif ini juga akan diberikan Marina bagi perempuan muda Indonesia melalui Marina Beauty Journey Roadshow yang hadir di sepuluh kota besar di Indonesia. Yaitu Medan, Palembang, Bandung, Tasikmalaya, Purwokerto, Yogyakarta, Solo, Malang, Kediri, dan Banjarmasin.

Roadshow ini akan menjangkau lebih dari 80 sekolah dan kampus, serta berinteraksi langsung dengan ribuan perempuan muda Indonesia.

“Kami berharap dapat terus menginspirasi perempuan muda Indonesia serta menjadi bagian dari perjalanan hidup mereka dalam menggali potensi diri melalui rangkaian produk dan berbagai inovasi. Semua kami hadirkan untuk menjawab kebutuhan perempuan muda Indonesia agar cantik dan bersinar”, tutup Winny Yunitawati.

Dalam acara peluncuran Marina Beauty Journey #SaatnyaBersinar, juga diperkenalkan tiga brand ambassador terbarunya yang mewakili perempuan muda Indonesia zaman sekarang yaitu generasi yang memiliki lebih banyak pilihan dan kebebasan untuk mengekplorasi minat dan bakatnya.

Adalah Lolita Agustine, aktris dan juga traveler yang kini terkenal sebagai presenter. Lalu ada penyanyi Tasya Kamila yang mengakui bahwa dukungan penuh dari orang tuanya telah membantunya mengembangkan bakat bernyanyinya sehingga ia bisa menjadi seorang penyanyi terkenal di usia 7 tahun & juga cemerlang secara akademik dengan mendapat beasiswa S2 dari LPDP ke Universitas Columbia di Amerika.

Di bidang olahraga ada Dellie Threesyadinda, atlet panahan nasional yang telah menekuni
minatnya di bidang olahraga panahan dan berkat ketekunannya sukses mengukir prestasi kelas dunia.

Semoga bermanfaat
#KeepBlogging

Tertarik Untuk Menikmati Kopi Rasa Jeruk...

by
Kopi adalah minuman hasil seduhan biji kopi yang telah disangrai dan dihaluskan menjadi bubuk. Kopi merupakan salah satu komiditas di dunia yang dibudidayakan lebih dari 50 negara. Dua varietas pohon kopi yang dikenal secara umum yaitu Kopi Robusta (Coffea canephora) dan Kopi Arabika (Coffea arabica).

Setiap penyajiannya pun berbeda-beda, tambahan jeruk pada kopi anda membuat rasa kopi semakin segar dan berkhasiat. Kopi dicampur jeruk memang kedengaranya agak aneh, tetapi dijamin anda yang pernah mencoba minuman ini akan langsung ketagihan. Ingin tahu Seperti apa ya rasanya, daripada penasaran mari kita lihat bahan-bahan apa saja dan cara membuat minuman Kopi Rasa Jeruk ini.

Bahan:
  • 500 ml air
  • 4 butir cengkeh
  • 1 buah jeruk lemon, kupas kulit
  • ½ buah jeruk manis,kupas kulit
  • 2 sdt kopi bubuk instan
  • 5 sdm gula pasir halus
Cara Membuat Kopi Rasa Jeruk
  1. Didihkan air dan cengkih sampai mendidih.
  2. Masukkan kulit jeruk lemon, kulit jeruk manis, kopi dan gula pasir. Aduk hingga larrut dan masak hingga mendidih. Angkat dan tuang ke gelas saji. Sajikan.

Semoga bermanfaat
#KeepBlogging

Ikan Keumamah, Kuliner Warisan Pejuang Aceh

by
Keumamah adalah sebutan populer untuk jenis ikan olahan yang ada di Aceh. Bentuknya persis seperti kayu dan keras, sehingga dikenal juga dengan istilah ikan kayu.

Keumamah ternyata menyimpan perjalanan sejarah yang panjang terkait Perang Aceh. Sengitnya perjuangan para tokoh Aceh pada masa lalu dalam melawan penjajah, hingga harus bergerilya di hutan-hutan dalam waktu lama, menuntut pasokan logistik. 

Oleh para pejuang Aceh pada masa lalu, ikan kayu diolah sebagai bahan lauk pauk yang bisa tahan lama hingga berbulan-bulan guna mencukupi kebutuhan gizi pejuang sekaligus nikmat untuk lauk pauk. 

Keumamah pun menjadi bekal yang praktis dan berguna untuk pasukan yang harus berpindah-pindah di hutan dalam waktu lama. Biasanya selain keumamah ada lagi bahan masakan yang dibawa, yaitu asam sunti atau yang lebih dikenal dengan asam Aceh. Belimbing wuluh yang dijemur kemudian diasinkan, serta memiliki daya tahan yang lama juga.

Keumamah ini selain bisa dinikmati tanpa diolah lagi, juga sering sering diolah dengan asam sunti. Sehingga menimbulkan selera makan pejuang saat itu. Oleh karena itu, dua bahan ini tak dapat dipisahkan saat itu.

Tak hanya jadi bekal pejuang, pada zaman dahulu jemaah haji Aceh yang hendak berangkat ke Tanah Suci dengan kapal layar yang memakan waktu lama sampai di Mekah, juga menyiapkan keumamah sebagai salah satu lauk pauknya selama dalam perjalanan.

Bagi orang Aceh, keumamah merupakan jenis lauk pauk yang praktis dan mudah serta dapat diolah dengan berbagai bahan masakan khas Aceh lainnya, sehingga menimbulkan selera makan. Meski lahir di medan perang, namun kelestariannya terjaga hingga sekarang.

Proses Pembuatan Ikan Keumamah

Bagaimana cara membuat keumamah? Seorang pemilik usaha ikan olahan di perkampungan nelayan Pusong Lhokseumawe, Tengku Rusli mengatakan, ikan yang khusus diolah untuk keumamah adalah ikan tongkol.

Ikan tongkol yang masih segar direbus hingga matang. Kemudian dibelah empat dan dibuang tulang serta kepalanya, selanjutnya baru dijemur di bawah matahari hingga beberapa hari.

"Jika semakin lama dijemur, maka kadar airnya akan semakin berkurang dan daging ikannya akan semakin keras, persis seperti kayu," tutur dia. 

Menurut Rusli, jika sudah keras seperti kayu, maka untuk mengonsumsinya, badan ikan diiris tipis-tipis hasilnya seperti irisan kayu. Lalu direndam sebentar untuk melembutkan dagingnya, baru dimasak.

Dia mengatakan, permintaan ikan keumamah tinggi saat sedang sepi hasil tangkapan ikan nelayan. Alasannya, karena salah satu alternatif masyarakat untuk mencukupi gizi dari ikan, salah satunya dengan mengonsumsi ikan keumamah tersebut yang diolah dengan berbagai jenis masakan.

"Bila sedang tidak musim ikan, karena sulitnya nelayan melaut atau berkurangnya hasil tangkapan ikan di laut, maka permintaan ikan keumamah tersebut, lebih tinggi dari biasanya," ujar dia.

Begitu juga sebaliknya, jika sedang banyak hasil tangkapan ikan oleh nelayan, maka tingkat permintaan ikan keumamah juga menurun. Akan tetapi, menurut penuturan pemilik usaha pengolahan ikan tersebut, bahan baku untuk ikan keumamah lebih mudah didapatkan jika sedang musim ikan, terutama untuk jenis ikan tongkol.

"Jika sedang musim ikan tongkol, maka banyak jenis ikan tersebut diolah dijadikan Ikan keumamah. Selanjutnya setelah diproses dijual ke pasar kepada pedagang ikan asin," ucap Rusli.

Sementara itu, pasaran ikan keumamah sendiri, menurut dia, lebih banyak terserap untuk kebutuhan pasar di dalam daerah Aceh sendiri. Sedangkan untuk keluar daerah sangat kurang, kecuali jika ada warga Aceh yang tinggal di luar daerah dikirim dalam skala kecil.

Resep Pembuatan ikan keumamah

Bahan :

  • 500 gram ikan tongkol kering ( ikan kayu, eungkot kayee )
  • 100 gram kentang

Bumbu :

  • 50 gram asam sunti
  • 25 gram cabai merah
  • 25 gram cabai hijau > biarkan utuh
  • 50 gram bawang merah
  • 2 siung bawang putih
  • 1 kelingking kunyit
  • Garam secukupnya
  • 5 lembar duan jeruk nipis
  • 1 tangkai daun kari
  • 200 ml minyak kelapa

Cara Memasak :

  1. Ikan kayu di sayat tipis-tipis, atau di suwir-suwir, lalu di rendam di air panas sampai lunak kembali
  2. Bumbu-bumbu keculai cabai hijau, daun jeruk nipis dan daun kari di haluskan, tumis bumbu halus dengan sedikit minyak sampai matang.
  3. Tambahkan minyak kelapa, masukan ikan kayu. Masukan kentang, kacang panjang, dan cabai hijau utuh, Tambahkan air bila di perlukan, Masak sampai mendidih.
  4. Bila kurang menyukai masakan yang berminyak. Penggunaan minyak kelapa dapat di kurangi sebanyak mungkin, misalkan hanya satu sendok makan untuk menumis bumbu dan pemasakan di lakukan dengan air, sajikan dengan nasi pulen panas.


Foto : Infokuliner
Semoga bermanfaat
#KeepBlogging

Senin, 25 Juli 2016

5 Wilayah Di Indonesia, Termasuk Sulit Di Taklukkan Belanda

by
Aceh
Sejak sekolah kita selalu membaca sejarah yang mengatakan bahwa Indonesia dijajah oleh Belanda selama 350 tahun. Namun, secara fakta hal itu tidak pernah terjadi. Indonesia memiliki banyak sekali wilayah dari Sabang dari Merauke. Menyatukan semua wilayah itu sebagai kawasan jajahan harus dilalui Belanda selama 3 abad lebih sebelum akhirnya menguasai secara penuh di 30-an tahun terakhir.

Meski kawasan di pulau Jawa, Sumatra, dan Kalimantan telah dikuasai oleh Belanda. Beberapa daerah seperti Aceh, Nias, Bali hingga Kalimantan Tengah baru dikalahkan Belanda memasuki abad ke-20.


Berikut #5 Wilayah terkuat di Indonesia yang sulit sekali ditaklukkan oleh Belanda di masa lalu.

1. Aceh (1914)

Belanda baru mampu menguasai kawasan Aceh pada tahun 1912 atau 33 tahun menjelang negeri ini akhirnya menyatakan proklamasi. Belanda sulit sekali masuk dan menguasai Aceh karena wilayah ini memiliki pemimpin yang sangat hebat. kekuatan militer Aceh yang dibantu oleh banyak masyarakat sipil membuat Belanda harus kerja ekstra selama terjadi perang.

Setidaknya selama 41 tahun, Perang Aceh pecah dan membuat Belanda haru mengeluarkan banyak sekali pasukan dan senjata. Aceh baru bisa dikuasai oleh Belanda pada tahun 1914 secara menyeluruh. Pasca perang terjadi, warga di sekitaran Aceh masih melakukan perlawanan secara sporadis hingga Jepang mengambil Alih kekuasaan Belanda di Tanah Air pada tahun 1942.

Sejak sekolah kita selalu membaca sejarah yang mengatakan bahwa Indonesia dijajah oleh Belanda selama 350 tahun. Namun, secara fakta hal itu tidak pernah terjadi. Indonesia memiliki banyak sekali wilayah dari Sabang dari Merauke. Menyatukan semua wilayah itu sebagai kawasan jajahan harus dilalui Belanda selama 3 abad lebih sebelum akhirnya menguasai secara penuh di 30-an tahun terakhir.

Meski kawasan di pulau Jawa, Sumatra, dan Kalimantan telah dikuasai oleh Belanda. Beberapa daerah seperti Aceh, Nias, Bali hingga Kalimantan Tengah baru dikalahkan Belanda memasuki abad ke-20. Berikut lima daerah terkuat di Indonesia yang susah sekali ditaklukkan oleh Belanda di masa lalu.

2. Nias (1914)

Suku Nias

Suku Nias adalah salah satu suku yang dikenal dengan budaya bertarungnya. Jauh sebelum Belanda akhirnya masuk dan membuat kekacauan, masyarakat Nias sudah terbiasa berperang. Saat Belanda mulai memasuki kawasan Nias, mereka diserang habis-habisan oleh para petarung dari Nias yang memang selalu waspada dengan pendatang yang mencurigakan.

Sejak Belanda kembali datang di tahun 1825 di Nias, mereka baru bisa menguasai pulau ini secara sempurna pada tahun 1914. Selama 90 tahun, Belanda berjuang dengan sekuat tenaga hingga mengerahkan banyak sekali pasukan untuk membuat masyarakat di Nias keok dan menyerah dengan sepenuhnya.

3. Bali (1908)


Belanda baru menguasai wilayah Bali secara utuh pada tahun 1908. Sebelumnya Belanda selalu kesulitan karena mendapatkan perlawanan yang sangat serius dari kerajaan-kerajaan yang ada di Pulau Dewata itu. Semua niat buruk dan curang yang direncanakan oleh Belanda akhirnya diberangus hingga membuat mereka semakin kalang kabut.

Perang yang berjalan sejak 1846 baru selesai 62 tahun kemudian. Pasukan dari kerajaan di Bali mulai lemah dan tidak bisa menghadapi serangan dari pasukan Belanda yang jumlahnya sangat besar. Kerajaan-kerajaan di Bali akhirnya menyerah karena tidak memiliki lagi daya untuk melawan Belanda yang kian keji.

4. Tapanuli (1907)


Kawasan Sumatra adalah kawasan paling susah ditembus oleh Belanda di masa penjajahan. Sebelum Belanda akhirnya menaklukkan Aceh di tahun 1914, kawasan Tapanuli yang saat itu masih dikuasai oleh Kerajaan Batak diserang habis-habisan oleh Belanda yang sudah mulai terobsesi menguasai semua kawasan Sumatra secara utuh.

Perang dengan Kerajaan Batak terjadi pada tahun 1878 dan berakhir dengan kekalahan Raja Sisingamangaraja XII di tahun 1907. Setelah raja yang melawan Belanda dengan gagah berani gugur, kawasan Tapanuli dan sekitarnya secara otomatis menjadi daerah kekuasaan Belanda secara resmi.

5. Jambi (1904)

Jambi yang saat itu dikuasai oleh Kesultanan Jambi mulai dimasuki Belanda pada tahun 1833. Belanda ingin menguasai kawasan Jambi karena daerah ini kaya akan produksi rempah seperti Lada yang saat itu banyak sekali diekspor ke berbagai wilayah Eropa dengan harga yang cukup mahal.

Berbekal banyaknya pasukan dan juga senjata, Belanda baru mampu menguasai kawasan Jambi setelah 71 tahun. Selama puluhan tahun itu, rakyat Jambi yang dibantu oleh pasukan dari Kerajaan Jambi. Memasuki periode raja Thaha Syaifuddin bin Muhammad, Kesultanan Jambi memasuki masa kehancuran.

Inilah lima daerah terkuat di Indonesia yang terkenal sangat susah ditaklukkan oleh Belanda selama masa penjajahan. Kalau saja semua daerah di Indonesia susah ditaklukkan, Belanda mungkin akan menyerah dan akhirnya pergi dari negeri ini.[terselubung]


Semoga bermanfaat
#KeepBlogging

7 Daerah Di Indonesia, Yang merupakan Tempat Asal Kopi Terbaik

by
Coffee
Kopi adalah minuman hasil seduhan biji kopi yang telah disangrai dan dihaluskan menjadi bubuk. Kopi merupakan salah satu komiditas di dunia yang dibudidayakan lebih dari 50 negara. Dua varietas pohon kopi yang dikenal secara umum yaitu Kopi Robusta (Coffea canephora) dan Kopi Arabika (Coffea arabica).

Ada beberapa jenis kopi yang ditanam petani Indonesia, sejak masa penjajahan Belanda. Dua jenis yang paling terkenal adalah kopi Arabika, dan Robusta. Dua lainnya adalah kopi Liberika dan Ekselsa, yang memiliki cita rasa berbeda. Belakangan, terdapat penggolongan baru yakni kopi Luwak, yang merupakan kopi sisa pembuangan Luwak. Kopi yang banyak terdapat di Jawa dan Sumatera ini, terkenal sangat enak dan mahal harganya.

Tanaman kopi hanya bisa tumbuh di dataran tinggi, sehingga tentu saja banyak obyek wisata yang juga bisa dinikmati di daerah asal kopi berikut. Ini dia 

1. Kopi Gayo

Memiliki aroma dan kenikmatan yang khas. Hal ini terbentuk dari letak dataran tinggi Gayo, Aceh, dan beberapa unsur lingkungan sekitarnya. Kopi Arabica Gayo memiliki peringkat premium dan banyak diekspor ke negara-negara Eropa selain ke Amerika Serikat dan Asia. Sebagian besar komoditas kopi arabika Gayo tersebut dikembangkan di tiga Kabupaten yaitu Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues. Nah, Anda tentu saja bisa berwisata ke tempat lain di Aceh, serta menikmati kuliner khas lainnya seperti mie Aceh.

2. Kopi Sidikalang

Ini adalah nama sebuah kecamatan di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Udara yang sejuk dan dingin, dengan tanah pegunungan yang kaya mineral di kawasan Bukit Barisan menghasilkan biji kopi Sidikalang yang bermutu tinggi. Kopi Sidikalang sangat terkenal akan kenikmatan cita rasanya, bahkan telah diakui mampu bersaing dengan kopi Brazil. Kopi Sidikalang kerap disebut sebagai ikonnya Kopi Sumatra. Komoditas ini istimewa karena tumbuh di dataran tinggi vulkanis.

3. Kopi Toraja

Komoditi yang juga mendunia adalah Kopi Toraja, Sulawesi Selatan. Kopi Toraja juga mempunyai rasa yang khas yaitu ada perpaduan rasa tanah. Kopi Toraja terdiri dari 2 macam yakni Arabika dan Robusta. Kandungan asamnya rendah serta memiliki body yang berat. Beberapa jenis kopi meninggalkan rasa pahit cukup lama di mulut, namun tidak dengan Kopi Toraja, rasa pahitnya langsung hilang.

4. Kopi Arang

Kopi ini diolah secara unik di Jember. Salah satu kopi terbaik di Jawa, berasal dari daerah Jawa Timur yang terkenal dengan nama Java Jampit. Kopi ini diproses dengan cara digosongkan. Uniknya, setelah diseduh air panas, akan tercium sedikit aroma cabe.

5. Kopi Kintamani

Selain Kopi Gayo, gerai kopi tersohor ‘Starbucks’ ternyata menggunakan Kopi Kintamani sebagai bahan bakunya. Kintamani yang terletak di Bangli, Bali, merupakan sebuah kawasan yang terkenal akan hawa pegunungannya yang sejuk dan juga jenis anjingnya. Memiliki aroma yang lembut dan manis, kopi ini diperoleh dari perkebunan yang menggunakan sistem pengairan subak.

6. Kopi Wamena

Wamena adalah sebuah kota kecil yang terletak di lembah pegunungan Jaya Wijaya, Papua. Iklimnya sangat dingin berkisar 15 derajat celcius. Kopi Arabika Wamena tumbuh di lembah Baliem, tanpa menggunakan pupuk kimia. Meski pengolahannya organik dan tradisional, namun para petani sangat memperhatikan kualitas dari kopi tersebut.

7. Kopi Flores

Kopi yang satu ini dinikmati pasar di Amerika. Kopi Flores berbiji besar, warna berkilau, aroma coklat yang kuat serta menyajikan rasa berat di lidah dengan tingkat keasamaan yang tinggi. Kopi arabika ini berasal dari kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.

Kamu penggemar kopi dan suka jalan-jalan? Mungkin ini bisa dijadikan tantangan baru saat merencanakan perjalanan. Jika biasanya hanya mencicipi kuliner khas suatu tempat, mungkin kini Anda bisa berburu sesuatu yang lebih spesifik, kopi. Sebagai penghasil kopi nomor empat dunia, Indonesia pasti memiliki sentra-sentra produksi kopi di berbagai daerah.

Semoga bermanfaat
#KeepBlogging